Hayya ‘Alal Linux


Tux, Maskot Linux

Jakarta – Milad kelahiran Linux mulai ramai diperingati bulan April ini. Berbagai syukuran digelar, antara lain peluncuran CGL (carrier grade Linux) 5.0, pemasangan gambar “I’ll celebrating 20 years of Linux with the Linux Foundation!” di blog para pemeluk Linux, dan akan dipungkasi gelaran selebrasi LinuxCon di Vancouver, Agustus nanti.

Dalam usianya yang menapak kurun 20 tahun, wajah Linux kini nampak menggelegak jiwa muda yang penuh merdeka.  Torvalds sebagai sang bidan, tentu bergembira melihat Tux, “anak baptisnya”, kini sudah menjadi sosialita sekaligus ikon dunia: Penguin pahlawan pembebasan melawan tirani proprietary dan monopoli sistem operasi.

Sebagaimana dunia yang dibundel dalam dua sisi berbeda, maka Linux seolah ditakdirkan menjadi alternatif serasi dari piranti lunak berkode proprietary. Seperti sunnah keseimbangan Yin Yang: ada ketertutupan jendela, sudah pasti harus ada pintu yang terbuka. Saat vendor besar menjual mahal software berlisensi resmi, GNU/Linux menawarkan kemudahan berbagi pakai lisensi. Proprietary for capital branding, Linux for human being. Sampai di sini, Linux nampak lebih manusiawi karena tidak semata menjejalkan konsep untung rugi dalam berdagang jual beli materi.

Transformasi bibit Linux kemudian memekarkan semangat FOSS (freeware open source software) ke seluruh penjuru dunia, termasuk disambut meriah di Indonesia. Ini dimungkinkan karena filosofi yang diusung FOSS Linux lekat secorak dengan nilai adiluhung keIndonesiaan: gotong royong, kesukarelawanan, kemerdekaan, kesetiakawanan, keadilan, dan keswadayaan. Atas alasan ini pula, penulis hijrah jadi muallaf Linux sejak pertengahan 2008, selain tanggungjawab moral mengendalikan hama pembajakan.

Perayaan 20 tahun Linux seyogyanya dapat menggugah Indonesia, khususnya masyarakat pemerhati dan pengguna TI. Satu sisi pesatnya perkembangan teknologi di negeri ini patut disyukuri, misalnya dengan melihat pertumbuhan penjualan perangkat keras. IDC merilis, tahun fiskal 2010, pengiriman komputer PC ke Indonesia mencapai 62 %. Data Apkomindo menyebut penjualan notebook dan netbook tahun 2010 diperkirakan porsinya meningkat menjadi 70% dan akhirnya menjadi 80% pada 2011 dan 2012.

Di sisi lain, fenomena penggunaan perangkat lunak bajakan terus memprihatinkan. Silakan googling prosentasi pembajakan software di Indonesia. Ya, angkanya masih berkutat di kisaran 86 %, sebagaimana rilisan data IDC dan BSA. Tentu ini catatan wanprestasi yang wajib diakhiri. Alasan  harga mahal saat membeli lisensi legal dan memilih praktis menggunakan lisensi bajakan adalah ciri patologi pariah..

Bila mau jujur, dua alasan umum pengguna bajakan itu sudah terjawab dengan hadirnya FOSS Linux. Kemudahan fitur, tampilan GUI, dan kehandalan isi kini nyaris menyamai software komersil berbayar. Paket sistem operasi dan aplikasi yang disertakan dalam satu bundel instalasi, kian memudahkan penggunaan, selain hemat di kantong tentunya. Para pengembang FOSS Linux Indonesia pun terus bergerak menyempurnakan berbagai celah kelemahan (bug) yang dikeluhkan. Setidaknya tiada lagi alasan membajak piranti lunak, terutama untuk keperluan rutin perkantoran.

Bicara pengakuan kehandalan, Linux sudah merambah luas ke ekosistem teknologi perkomputeran. Komputasi awan, server, sindikasi media, termasuk internet, kini kian riuh berLinux ria. Mesin pencari Google, siapa tidak kenal dia? Juga fenomena Android yang kini melejit?

Mereka ternyata pemilih platform Linux sebagai jerohan penggeraknya. Dari sini, keengganan untuk mencicipi Linux dengan alasan “gak setenar bajakan” atau “gak ada teman” sangat tidak relevan.

Pemerintah pun sudah berusaha lewat kampanye IGOS, meski kini gaungnya sepi setelah ganti menteri. Setidaknya masyarakat punya pijakan kuat untuk memulai usaha serius ke arah ini. Fatwa MUI juga sudah berbunyi, “haram menggunakan piranti lunak bajakan”. Jika itu dianggap belum cukup berkekuatan inkracht, cukuplah jejaring komunitas jadi penggairah.

Seperti pesan Pak Kusmayanto Kadiman, bahwa poros pemasyarakatan FOSS Linux bisa diaktifkan lewat rangkaian kerjasama ABG+C (akademisi, bisnis, goverment+community). Nah, kekuatan jejaring community bisa jadi pelopor kalau misalnya ketiga unsur ABG memble. Community diwakili pengembang lokal yang sangat kuat komitmen kerelawanannya dan semangat keIndonesiaannya.  Jadi kurang endorser apa lagi?

Lebih jauh, ada relevansi nilai yang mirip bila menyandingkan filosofi Linux dan semangat kemerdekaan Indonesia. Indonesia memerdekakan diri dari penjajahan VOC Belanda, sementara Linux coba menawarkan pembebasan lisensi dari jeratan vendor proprietary. Kang Onno pernah memperingatkan, selama ini jutaan dollar lari ke luar negeri karena pembelian sistem operasi berlisensi proprietary. Selebihnya, pembelian software bajakan, selain merugikan negara, juga entah menguap kemana peruntukan uangnya.

Maka saatnya ucapkan selamat milad ke-20 Linux.. Lewat peringatan 20 tahun kelahiran Linux inilah, saatnya berpindah ke pilihan piranti lunak yang murah, mudah, dan sah. “Hayya ‘Alal Linux”. Marilah berhijrah ke Linux. Merdekakan diri dari jerat prorietary. Uang 20 ribuan yang yang biasanya digunakan untuk beli piranti lunak bajakan itu sebaiknya disumbangkan untuk pengembangan FOSS Linux lokal. Tentu ini akan jadi fenomena keswadayaan yang membersyukurkan.

Terkait latihan praktik kejujuran, mulailah dari lingkungan terdekat. Misalnya di pekerjaan komputasi, selalu gunakan komputer yang bersistem operasi legal. Bila lisensi software proprietary terasa mahal, gunakanlah FOSS Linux yang harganya ramah sosial dan terbukti handal. Anda bisa pilih FOSS Linux edisi corporate enterprise atau gratisan yang bebas tersedia di berbagai mirror unduhan. Pilihan ini akan lebih aman dan menenteramkan daripada kucing-kucingan dengan aparat keamanan karena jual beli lisensi bajakan.

Memilih FOSS Linux juga mencerminkan kesadaran berdikari dan proses berswadaya TI, selain mendukung-hargai karya pengembang lokal yang potensial. Jangan lupakan juga tanggungjawab sosial memberangus kriminalitas pencurian kekayaan intelektual. Sebagaimana publik mencerca pembajak Somalia yang menyandera warga Indonesia, maka saatnya kini menghentikan pembajakan di negeri sendiri: Gunakan FOSS Linux dan sudahi penggunaan lisensi illegal proprietary.

Bersama penulis, mari bersalaman dengan Tux dan ikuti ayun langkahnya yang gemulai yang meliuk-liuk. Selamat milad atas ijtihat Torvalds. Selamat bersemangat Linuxer semuanya. Sambil syukuran, terus kumandangkan ajakan “Hayya ‘alal Linux” kepada pengguna komputer di Indonesia.
Sumber :Tentang Penulis: entang Penulis: Ahmad Saiful Muhajir adalah penggiat dan pemerhati Open Source yang sebelumnya aktif di Jawa Tengah Open Source Center. Ia dapat dihubungi di http://saifulmuhajir.me atau melalui Twitter di akun @saifulmuhajir.

Ditulis pada Linux | Tinggalkan Komentar

Pengumuman UN SMA 2012 99 % Siswa Lulus

Pengumuman UN SMA 2012 99 % Siswa Lulus – Menurut kabar berita yang di nyatakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau di seingkat menjadi Kemdikbud bahwasanya angka Kelulusan Ujian Nasional SMA dan sederajat tahun 2012 mencapai 99, 50 persen. Pengumuman kelulusan tiap siswa sendiri akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada hari Sabtu 26 Mei 2012.

Dalam paparannya, Mendikbud, Mohammad Nuh menjelaskan, peserta UN SMA tahun ini mencapai 1.524.704 siswa. Akan tetapi karena berbagai hal, sedikitnya ada 7.345 siswa yang tidak mengikuti UN. Dari jumlah tersebut, kata dia, tercatat 1.517.125 (99,50 persen) siswa SMA dinyatakan lulus UN. Sedangkan 7.579 siswa SMA lainnya tidak lulus pada UN tahun ini.

“Data ini kami sampaikan agar segera dipublikasikan kepada masyarakat,” kata Nuh, Kamis (24/5/2012), di gedung Kemdikbud, Jakarta.
Dengan demikian ayuk sama-sama kita berdoa agar pada Pengumuman Ujian Nasional UN SMA/SMK/MA Tahun 2012 ini adik-adik kita dinyatakan lulus semua… amin
Sumber di copy 08:08 25 mei 2012http://www.jovitaonline.com/2012/05/pengumuman-un-sma-2012-99-siswa-lulus.html

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Mengenang KH. Ahmad Asrori Ustman Al-Ishaqy Sang Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyyah

KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri.
Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang.
Berikut silsilahnya :Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.
Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.
Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.
Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.
Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.
Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.
Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.
Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.
Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.
ugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun.
Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.
Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan.
Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.
Telah meninggal dunia pada hari ini 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB, KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI, Kedinding Surabaya
Beliau adalah mursyid Thoriqoh Qodiriyah & Naqsabandiyyah saat ini, semoga Allah senantiasa mengampuni semua dosanya

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

GAHARU 8 TAHUN MENDATANG PULUHAN JUTA JADI RATUSAN JUTA DARI 100 POHON

GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat IndonesiaHampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri. Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.

Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.

Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu terbesar di dunia, namun saat ini potensinya menurun, bahkan gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan. Beberapa jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan kualitas terbaik (harga tinggi). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur (teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat mendapatkan gubal gaharu (inokulasi). Tanpa mengetahui kedua masalah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil gaharu yang memuaskan. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat menghasilkan gubal gaharu. Sehingga secara alami pohon gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Ayo lestarikan hutan Indonesia demi generasi mendatang.

disadur dari http://www.n4gn.net/?m=&id=selamet

UD.GAHARU HITAM MALANG
menyediakan bibit gaharu dan jasa inokulasian yang langsung di tangani dari dept kehutanan.
serta menjual jamur fusarium sebagai penghitam kayu gaharu,dalam jarak 3bln setelah inokulasian akan tampak hasil nya.sekilas tentang gaharu

MENGENAL GAHARU :
Gaharu merupakan bahan berbentuk kayu yang mengandung resin atau damar dan bila dibakar akan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Komoditi ekspor ini mempunyai nilai jual yang tinggi baik di pasar nasional maupun internasional sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Di dunia perdagangan gaharu dikenal dengan nama agarwood, aloe wood, dan eagle wood, oud (Timur tengah), dan Cing (Cina).
Gaharu diperoleh dari bagian (akar, batang, cabang) pohon gaharu dengan nama-nama daerahnya antara lain : calabac, karas, kekaras, mengkaras (Dayak), galoop (Melayu), halim (lampung), alim (Batak), kareh (Minang), age (Sorong), bokuin (Morotai), lason (Seram), Ketimunan (Lombok), ruhuwama (Sumba), dan seke (Flores). Ada beberapa jenis pohon gaharu, antara lain yang saat ini sedang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di indonesia adalah jenis Gyrinops spp. Dan Aquilaria spp. Kedua jenis tersebut menghasilkan gaharu dengan kualitas yang tinggi sehingga sangat diminati masyarakat untuk dibudidayakan.
Aroma wangi atau harum dengan cara membakar secara sederhana banyak dilakukan oleh masyarakat Timur Tengah (seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Yaman, Oman) sebagai pengharum tubuh dan ruangan, sedangkan penggunaan yang lebih bervariasi banyak dilakukan di Cina, Korea, dan Jepang seperti bahan baku industri parfum, obat-obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris serta untuk keperluan kegiatan religius.

BUDIDAYA GAHARU :
Pada mulanya pohon gaharu banyak dijumpai dalam hutan alam, namun perburuan gaharu yang tidak terkendali sejak tahun 1980-an sebagai akibat tingginya permintaan konsumen menyebabkan pohon gaharu di alam semakin langka. Untuk memenuhi permintaan konsumen yang masih tinggi tersebut, maka cara yang dapat dilakukan adalah dengan membudidayakannya atau
menanam kembali baik di dalam hutan maupun di lahan-lahan milik masyarakat. Budidaya gaharu telah mulai dilakukan sejak tahun 1990-an dan berkembang terus di wilayah Indonesia terutama oleh masyarakat di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Lombok. Sejak 5 tahun terakhir ini, masyarakat di Pulau Jawa mulai tertarik dan ramai-ramai menanam bibit pohon gaharu di lahan-lahan miliknya. Budidaya pohon gaharu ini diharapkan semakin berkembang pesat agar dapat memproduksi gaharu dengan baik untuk memenuhi permintaan konsumen dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Usaha budidaya pohon gaharu ini merupakan salah satu investasi jangka menengah dengan hasil yang menjanjikan.
Pohon gaharu dapat tumbuh baik pada lahan dataran rendah hingga perbukitan hingga mencapai ketinggian 800 meter di atas permukaan laut dengan kondisi tanah lembut liat berpasir (pH : 4,0 – 6,0). Pola tanam pohon gaharu dapat dilakukan dengan pola monokultur (sejenis) dan polikultur (campuran). Penanaman pola monokultur dilakukan dalam lahan kosong dengan jarak 2 x 2 m, 2 x 3 m dan 3 x 3 m. Sedangkan penanaman pola polikultur dapat dilakukan bersama dengan tanaman keras lainnya seperti : coklat, karet, kopi, kelapa sawit, sengon, atau ditanam dalam pekarangan/perladangan yang sudah ada kumpulan tanamannya (pengkayaan).

PROSES PEMANENAN GAHARU :
Untuk mendapatkan produk gaharu harus melalui proses pemanenan (rekayasa produksi), yaitu dengan teknik induksi jamur atau pathogen ke dalam pohon gaharu. Teknik induksi atau inokulasi yang berkembang saat ini adalah teknik pengeboran dan penyuntikan. Gaharu akan terbentuk sebagai akibat dari proses fisiologis pohon yang bertahan hidup setelah diserang oleh jamur atau pathogen yang dimasukkan (induksi) ke dalam jaringan kayu melalui akar, batang dan cabang pohon. Pemanenan gaharu sebaiknya dilakukan minimal selama 3 tahun setelah proses induksi (inokulasi). Gaharu yang terbentuk dapat dibedakan dalam 3 kelas kualitas yaitu : gubal gaharu, kemedangan gaharu dan abu gaharu. Harga ketiga kelas kualitas tersebut berbeda-beda. Untuk kelas gubal gaharu, harga tertinggi di pasaran dapat mencapai Rp. 60 juta per kilogram. Sedangkan harga kemedangan gaharu berkira antara Rp. 3 juta – 20 juta per kilogram. Kayu gaharu dapat disuling menjadi minyak gaharu dengan harga berkisar antara Rp. 50 ribu – 150 ribu per cc.

PROSPEK INVESTASI GAHARU :
Di bawah ini memperlihatkan secara garis besar kelayakan investasi atau usaha budidaya pohon gaharu sebagai berikut : (Investasi dihitung per 100 pohon atau luas 400 m2 dengan jarak tanam 2 x 2 m)
1. Biaya pembelian bibit                                  : 100 x Rp. 15.000,- : Rp. 1.500.000,-
2. Biaya penanaman                                       : 100 x Rp. 5.000,- : Rp. 500.000,-
3. Biaya perawatan (termasuk pemupukan)   : 100 x Rp. 100.000,- : Rp. 10.000.000,-
4. Biaya proses inokulasi                                : 100 x Rp. 150.000,- : Rp. 15.000.000,-
5. Biaya proses pemanenan                           : 100 x Rp. 100.000,- : Rp. 10.000.000,-
6. Biaya angkutan, penjagaan, dll.                  : 100 x Rp. 10.000,- : Rp. 1.000.000,-

Jumlah biaya pengeluaran : Rp. 38.000.000,-

6. Hasil penjualan gubal : 100 x 0,5 kg x Rp. 3.000.000,- : Rp. 150.000.000,-
7. Hasil penjualan kemedangan 100 x 5 kg x minimal Rp. 500.000,- : Rp. 250.000.000,-

Jumlah pendapatan : Rp. 350.000.000,-

TOTAL KEUNTUNGAN : Rp. 350.000.000 – Rp. 38.000.000 : Rp. 312.000.000,-

melayani inokulasian keseluruh indonesia

tak perlu risau jika nanti sudah bisa jadi ,karena kita menerima jual beli gaharu baik kayu ,tingkat kamedangan hingga gubal.
bisa kirim ke seluruh wilayah indonesia dan juga bisa melayani inokulasian ke seluruh indonesia.
melayani pembelian dari lumajang,blitar,kediri.ambil di tempat silahkan
alamat kasembon malang.jalan raya malang kediri. hub telp 085755117842 harga bisa turun gan

Ditulis pada Uncategorized | 2 Komentar

Guru Tersertifikasi Perlu Dievaluasi

SEMARANG – Langkah pemerintah untuk mengevaluasi kinerja dan guru yang telah tersertifikasi pada 2013 mendapat sambutan positif. Namun, hal tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan dan periodik tiap tahun agar kualitas guru terus meningkat.

”Rencana ini harus segera terealisasi secepatnya, ini merupakan langkah positif yang harus didukung demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika ada kekurangan guru harus ada langkah konkret perbaikan,” kata anggota konsorsium sertifikasi guru, Muhdi SH MHum, baru-baru ini. Dia menyatakan, walaupun sudah tersertifikasi, kinerja guru perlu dipantau sebab sertifikasi bukan sekadar untuk mendapatkan tunjangan.

”Harus diimbangi dengan peningkatan empat kompetensi yaitu pedagogik, sosial, profesionalitas, dan kepribadian. Sebab mutu pendidikan di tangan mereka,” kata Rektor IKIP PGRI ini.  Menurut dia, peningkatan kinerja tersebut juga sebagai pertanggungjawaban guru tersertifikasi kepada masyarakat, selain itu dana yang dikeluarkan juga besar. ”Jika memang dalam evaluasi ada guru yang belum memenuhi standar komptensi guru, harus segara ada pembinaan dan pelatihan. Yang terpenting, dalam melakukan evaluasi harus adil sesuai dengan ketentuan, sehingga bisa diketahui apa yang kurang dari sertifikasi yang telah dilakukan,” tandas Muhdi.

Ketua PGRI Kota Semarang Ngasbun Egar menambahkan, yang paling berperan dalam melakukan evaluasi guru setelah tersertifikasi adalah kepala sekolah, sebab yang paling tahu kondisi guru di sekolah. ”Kepala sekolah harus bisa melakukan tindakan evaluasi guru di institusinya dan memberikan laporan kepada dinas pendidikan,” ujar Ngasbun.  (H85-69)

disadur dari http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/11/176754/16/Guru-Tersertifikasi-Perlu-Dievaluasi

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Cepetan Lulus Sebelum Agustus 2012

disadur dari Daniel Arie 10/02/2012

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1552

Rasanya semakin lama beban mahasiswa di Indonesia semakin berat saja. Sudah biaya pendidikan mahal, masih saja pemerintah menjadikan peserta didik sebagai ‘kelinci percobaan’ kebijakan. Yang terbaru adalah mewajibkan mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 menerbitkan skripsi, tesis, dan disertasi ke dalam jurnal. Dan ini akan segera dimulai di tahun perkuliahan 2012-2013. Yang sedang menyusun skripsi, tesis, dan disertasi pasti ingin buru-buru (ingin) diwisuda sebelum tahun perkuliahan 2011-2012 berakhir supaya tidak perlu merasakan kebijakan tersebut.

Sudah banyak memang para ahli membahas masalah ini, baik yang pro maupun yang kontra dengan kebijakan ini. Tulisan ini berasal dari sudut pandang mahasiswa karena saya masih berstatus mahasiswa, dan sepertinya saya harus segera buru-buru menyelesaikan studi saya supaya saya tidak terkena kebijakan ini. Mumpung belum terealisasi, yang penting selesai dulu tugas akhirnya. Soal kualitas belakangan.
(Tolong jangan ditiru pemikiran saya ini. Tidak baik seorang intelektual berpikiran seperti apa yang saya pikirkan). Entah apa yang saya tulis ini seperti gelas yang setengah penuh atau setengah kosong. Saya bukan dosen dan saya tidak tahu persis bagaimana proses sebuah karya ilmiah bisa dimuat di sebuah jurnal.
Tetapi yang saya baca pada rubrik Opini di sebuah surat kabar nasional, sebuah karya ilmiah untuk dapat dimuat di sebuah jurnal nasional terakreditasi, butuh waktu sekitar satu atau dua tahun. Menunggu pemuatannya saja butuh waktu lebih lama dari penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi. Jadi, meskipun sebuah skripsi, tesis, atau disertasi sudah diujikan di hadapan tim penguji dan dinyatakan lulus, sebelum skripsi dimuat di jurnal ilmiah, tesis di jurnal ilmiah nasional, dan disertasi di jurnal internasional, mahasiswa tidak bisa menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor. Saya tidak tahu di perguruan tinggi lain.
Di tempat saya belajar, jika proposal sudah diterima, ketika diujikan di hadapan tim penguji saat ujian skripsi atau tesis, hampir pasti calon sarjana dan magister akan lulus minimal dengan nilai B. Jangankan harus mengulang penelitian, yang mendapat nilai C saja sangat sangat jarang. Untuk perguruan tinggi, jika terlalu mempersulit mahasiswa untuk lulus, tentu akan berpengaruh kepada akreditasi.
Coba saja lihat iklan perguruan tinggi swasta. Tiap program studi pasti dituliskan nilai akreditasinya. Jangan salah, nilai akreditasi adalah nilai jual tersendiri bagi perguruan tinggi. Semakin banyak progdi yang berakreditasi “A”, kemampuan merebut calon mahasiswa semakin besar. Perguruan tinggi pun tidak mau dikenal sebagai perguruan tinggi yang susah meluluskan mahasiswa.
Jujur saja, ketika memilih sebuah perguruan tinggi, salah satu referensi yang ditanyakan kepada senior adalah, “lulusnya gampang atau tidak?” Ketika saatnya mahasiswa mencari dosen pembimbing untuk penulisan skripsi atau tesis, pasti ada dosen yang tidak favorit. Dosen menjadi dosen pembimbing yang tidak favorit bisa jadi karena banyak kesibukan di luar atau karena terlalu perfect dan idealis! Coret sana, coret sini, kurang ini, kurang itu, atau apalah, yang membuat mahasiswa kemudian malas-malasan untuk menyelesaikan skripsi atau tesisnya.
Baru kembali semangat setelah menerima surat pemberitahuan tentang batas akhir masa studi. Dan biasanya setelah mendapat surat ini, dosen killer tersebut agak melunak. Bagi mahasiswa dan dosen, pada akhirnya mahasiswa lulus meski dengan hasil skripsi atau tesis yang bisa dibilang sekedar untuk memenuhi syarat kelulusan. Kalau anda tanya saya, saya mahasiswa yang sedikit idealis. Saya bisa saja melakukan apa yang teman-teman mahasiswa lain lakukan.
Lihat skripsi atau tesis sebelumnya, cukup ganti obyek penelitiannya, dan jadilah skripsi atau tesis. Toh mengganti obyek penelitian tidaklah salah. Mengganti obyek penelitian hanya ada dua kemungkinan, mendukung atau bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya. Jika bertentangan, ini bisa jadi bahan penelitian berikut bagi ‘adik’ angkatan yang akan menyusun skripsi atau tesis. Sebenarnya ada cara mudah lainnya, tapi tidak perlu dan saya tidak mau sebut disini.
Selain tidak etis, juga tidak mendidik, meskipun mungkin anda tahu apa cara mudah yang saya maksud di atas. Kembali ke idealisme saya dalam penyusunan skripsi dan tesis. Terlalu idealis ternyata bikin ‘kaku ati’. Satu per satu teman saya sudah lulus, sementara saya? Masih saja berkutat mencari referensi. Dosen pembimbing saya pun bukan termasuk dosen yang neko-neko. Sekarang momennya malah pas. Tiba-tiba muncul kebijakan kalau untuk mendapat gelar, mahasiswa harus membuat makalah yang harus dimuat di jurnal nasional terakreditasi.
Daripada saya kena kebijakan tersebut, saya harus buru-buru menyelesaikan tugas akhir saya. Singkirkan dulu idealisme. Toh tugas akhir saya juga sepertinya tidak akan dibaca kalau saya melamar pekerjaan di bidang non-akademik. Bagi pemberi kerja di bidang non-akademik, yang penting itu selembar ijasah, bukan bundel tugas akhir. Jika kebijakan ini dipaksakan harus dilaksanakan, bisa-bisa bukan sekedar mutu lulusan perguruan tinggi yang kalah dibanding dengan Malaysia. Malah mungkin daripada bayar mahal-mahal masuk PTN atau PTS, masa studi yang lebih lama karena untuk lulus harus menunggu makalah dimuat di jurnal ilmiah, lebih baik sekalian saja kuliah di luar negeri.
Dihitung-hitung biayanya pun hampir sama. Kuliah di luar negeri tugas akhir bisa memilih jalur non skripsi/tesis, dan tugas akhirnya pun tidak harus dimuat di jurnal ilmiah. Outputnya sama saja, hanya selembar kertas. Selembar kertas yang jika ‘dijual’ ke pemberi kerja pasti nilainya lebih tinggi dibanding selembar ijasah produksi universitas dalam negeri. Perguruan tinggi di luar negeri panen mahasiswa Indonesia! Atau banyak perguruan tinggi dari luar negeri yang membuka cabang di Indonesia.
Perguruan tinggi luar negeri pun pasti akan butuh banyak dosen karena limpahan calon mahasiswa dari Indonesia. Karena banyak mahasiswa asal Indonesia, direkrutlah dosen-dosen asal Indonesia. Para dosen diberi fasilitas lebih baik disana. Akhirnya tidak ada lagi yang mau jadi dosen di Indonesia, kecuali sudah ‘gila’. Apa yang tersisa? Tidak tega saya menulisnya disini. Pemikiran saya cuma sekedar andai-andai belaka. Maklum, otaknya sudah panas duluan karena muncul kebijakan terbaru tersebut. Jadi dimaafkan saja kalau saya ‘ngelantur’. Sekali lagi saya tegaskan, ini hanya opini mahasiswa yang sedang berusaha untuk ‘menghindari’ kewajiban menulis makalah di jurnal supaya mendapatkan gelar yang saya inginkan. Jadi, Buruan wisuda sebelum Agustus 2012!
Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Tahun 2014 Ditargetkan Sertifikasi Guru Madrasah Selesai

Jakarta, (www.kemenag.go.id) – Kementerian Agama (Kemenag) tengah memproses sertifikasi guru madrasah baik guru negeri maupun swasta. Namun saat ini hanya 60 % dari seluruh guru madrasah di tanah air yang memiliki persyaratan dengan ijazah sarjana strata satu (S1).

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Mohammad Ali usai acara Nuzulul Quran di lingkungan Direktorat Jenderal Pendis di Jakarta, Selasa sore (16/8). “Target kami sertifikasi guru madrasah selesai tahun 2014, seluruhnya ada 280 ribu guru negeri dan 500 ribuan guru madrasah swasta,” kata Ali.

Namun lanjut dia, target tersebut tidak mudah untuk dicapai. Karena terkendala antara lain oleh sumber daya manusia yang memproses sertifikasi guru madrasah. “Yang memproses para dosen di UIN, jumlahnya terbatas,” jelasnya.

Selain itu sambung Ali, masalah persyaratan tenaga pendidik yang mengikuti sertifikasi, yaitu harus memiliki ijazah S1. “Saat ini ada 40 persen guru madrasah belum S1. Bisa saja diproses sertifikasi meski belum S1 kalau usianya sudah 50 tahun,” ujarnya.

Seperti diketahui, Pemerintah RI dari tahun ke tahun meningkatkan anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan sebagaimana dituturkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato nota keuangan di Gedung DPR, Selasa (16/8) antara lain untuk peningkatan mutu pendidik termasuk guru madrasah.

”Sejalan dengan itu, kita tingkatkan pula mutu dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan Madrasah melalui sertifikasi guru sebanyak 90 ribu orang,” kata kepala negara.

Secara keseluruhan, dalam RAPBN 2012 terdapat tujuh kementerian dan lembaga yang mendapat alokasi anggaran di atas Rp 20 triliun. Ketujuh kementerian dan lembaga itu adalah Kementerian Pertahanan dengan alokasi anggaran sebesar Rp 64,4 triliun, Kementerian Pekerjaan Umum Rp 61,2 triliun, Kementerian Pendidikan Nasional Rp 57,8 triliun, Kementerian Agama Rp 37,3 triliun, Kepolisian Negara Republik Indonesia Rp 34,4 triliun, Kementerian Kesehatan Rp 28,3 triliun, dan Kementerian Perhubungan sebesar Rp 26,8 triliun.

”Alokasi anggaran pada Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama, kita prioritaskan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun nonformal di semua jenjang pendidikan,” kata Presiden.

Sementara peringatan Nuzulul Qur`an yang diikuti seluruh karyawan di lingkungan Ditjen Pendis berlangsung hikmat dengan penceramah Dr KH Manarul Hidayat. Ia meningatkan aparat Kemenag menjadi teladan bagi aparat instasi yang lain.

”Kalau pegawai departemen lain korupsi kedengarannya biasa, tapi kalau pegawai Depag (Kemenag) luar biasa. Karena sebagai pegawai yang tahu ajaran agama,” kata Manarul.

(ks)

Sumber : http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=6288
disadur dari http://blog.hoeda.info/tahun-2014-ditargetkan-sertifikasi-guru-madrasah-selesai/

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Merawat Notebook Agar Awet

LAPTOP atau notebook agar lebih awet memang harus diperlakukan dengan baik dan benar. Berikut ini saran terbaik bagi Anda dalam merawat dan menjaga notebook tetap awet.

1. Cara Membawa

Jangan menenteng notebook dalam kondisi masih stand by, karena akan memengaruhi hardisk. Hal ini disebabkan karena piringan hardisk masih dalam kondisi berputar, dimana mata hardisk dalam posisi tidak aman dan masih berada di atas piringan. Posisi ini bisa membuat hardisk mengalami baret dan berakibat rusak atau hilangnya data. Namun, saran ini tidak berlaku untuk notebook yang menggunakan storage SSD.

2. Cara Menyimpan

Simpan notebook Anda di tempat yang kering. Saat tidak digunakan, lebih baik disimpan rapi di dalam tas notebook untuk menghindari casing notebook terkena baret. Letakkan notebook pada bidang yang datar dan hindari menumpuk barang di atas notebook ketika sedang tidak digunakan. Tumpukan benda di atas notebook akan menekan layar LCD dan bisa berakibat pada kerusakan layar, parahnya LCD bisa retak. Hindarkan juga notebook dari paparan sinar matahari secara langsung, karena komponen luarnya yang terbuat dari karet akan mengeras dan warna casing bisa memudar.

3. Cara Menggunakan

Hal ini tergantung pada jenis notebook yang Anda gunakan. Netbook, didesain utnuk menjalankan aplikasi ringan, seperti aplikasi office, aktivitas browsing, multimedia (musik, film non HD, editing foto ringan dan lain sebagainya), dan sebaiknya tidak dibenamkan dengan aplikasi lain yang menuntut kinerja tinggi.

Sementara untuk notebook, sebaiknya sesuaikan aplikasi Anda dengan kinerja notebook. Ingat, Menginstall banyak aplikasi yang tidak penting hanya akan membuat performa notebook Anda melambat. Hal ini karena kapasitas hardsik semakin besar sehingga sistem oeprasi semakin sulit untuk dibaca.

4. Cara Upgrade

Elemen yang paling mudah di upgrade pada notebook adalah hardisk dan memori. Sementara pada beberapa notebook lainnya, Anda bisa pula meng-upgrade optical drive dan prosesor. Penambahan memori tentu akan membuat kinerja notebook menjadi lebih bertenaga. Perlu diingat, saat meng-upgrade memori, sesuaikan juga dengan sistem operasi yang Anda gunakan. Sistem operasi 32bit hanya akan dapat membaca memori hingga 3GB, sementara sistem operasi 64bit dapat membaca memori lebih dari 3GB.

Hardisk. Pengguna biasanya meng-upgrade komponen ini karena kebutuhan dan kasitas memori notbook yang besar. Saat ini, kecepatan putar hardisk terbagi dalam dua jenis putaran, yaitu 5400RPM (Rotation Per Minute) dan 7200RPM. Sayang, hardisk dengan 7200RPM sulit ditemukan di Indonesia. Hardisk berputaran tinggi ini membuat sistem operasi dan aplikasi notebook akan lebih responsif.

Solusinya sebenarnya bisa saja dengan memilih SSD yang semakin lama semakin murah. Namun, kelemahan SSD adalah kapasitas yang tersedia masih kecil sehingga lebih cocok untuk Anda yang sangat mobile. Dengan SSD, kemungkinan kerusakan penyimpanan data dan kehilangan data sangat kecil.

5. Cara Membersihkan

Layar LCD dan casing serta keyboard notebook Anda harus terjaga kebersihannya. LCD yang kotor, penuh moda dan cap tangan sangat tidak nyaman karena mengganggu penglihatan di layar. Untuk membersihkan layar notebook Anda, gunakanlah kain yang lembut. Kain harus dalam kondisi lembab saat diusapkan pada bidang layar. Untuk casing, bersihkanlah permukaannya dengan kain yang kering. Sedangkan pada keyboard, gunakan saja kuas berbulu lembut.

6. Cara Memperpanjang Masa Hidup Notebook

* Setting Power Management
* Memperbesar Kapasitas Memori (RAM)
* Melakukan Defrag System
* Menurunkan Kontras
* Matikan Proses/Program yang berjalan di background
* Jangan Tinggalkan CD/DVD pada Optical Drive
* Lepas Perangkat dari USB port
* Matikan Feature Konektivitas yang Tidak Perlu
* Pilih Mode Hibernate, bukan Standby
* Hindari Praktik Multi-tasking
* Switching Graphics
* Ganti Hard Disk dengan SSD

7. Cara Merawat Baterai

Bersihkan kontak yang terbuat dari kuningan yang terdapat pada baterai dan notebook dengan menggunakan cotton bud dan contact cleaner. Ada baiknya Anda juga membiasakan menghabiskan daya baterai selama dua atau tiga hari sekali dengan cara menggunakan daya baterai saja saat digunakan dan bila warning low baterai muncul segera pasang adaptor kembali.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/gaya/2011/04/12/1113/Merawat-Notebook-Agar-Awet

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar